This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, June 24, 2012

Perempuan Madura


Mencintai dan keinginan untuk dicintai adalah hal yang sangat manusiawi. Semua orang pasti merasakannya. Cinta yang pertama kali kukenal adalah cinta ibuku. Ketulusan serta pengorbanannyalah yang membuatku terlahir dan hidup seperti saat ini.

Sebuah hikayat usang pernah berkata “Cinta itu buta. Seringkali karena cinta orang bisa melakukan hal yang tidak rasional”. Bisa jadi itulah gambaran sederhana dari apa yang aku rasakan pada ibuku. Perempuan tangguh yang dari rahimnyalah, Tuhan memberiku kehidupan. Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana, asli keturunan madura. Bagi orang madura kehormatan adalah segalanya. Dengan semboyan yang karib kita kenal ‘lebih baik putih tulang daripada putih mata’ (lebih baik mati daripada menanggung malu). Itulah kenapa tidak salah jika kebanyakan orang madura identik dengan ‘carok’.

Carok adalah sebuah adu tanding yang kerapkali disebabkan hal-hal sepele tapi menyentil kehormatan dan harga diri. Namun terlepas dari semua itu, aku tetap bangga terlahir sebagai perempuan madura, yang kata orang terkenal tangguh dan tahan banting. Kumerenung dan berpikir. Lima tahun lalu, ketika aku lulus dari bangku SMA. Untuk pertama kalinya ketangguhanku diuji. Aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang dilematis. Pernikahan. Yah, sebuah lamaran datang pada orang tuaku. Satu hal yang juga aku pelajari sebagai perempuan madura adalah ‘surga kami ada pada pengabdian kami’. Dan pengorbanan awalku tentu saja untuk keluargaku, ibuku. Karena alasan itulah, menolak menjadi momok yang mengerikan bagiku. Meski menerima perjodohan ini juga bukan hal yang menyenangkan.

Pilihan ini teramat sulit. Karena apapun pilihannya aku tetap ada di pihak yang kalah. Menikah, harusnya menjadi moment yang indah bagi setiap pasangan yang hendak menjalaninya. Namun tak demikian yang kurasakan, ketika aku dihadapkan pada kenyataan aku harus mengubur rapat keinginanku untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi berkarir. Namun menolak perjodohan ini juga bukan solusi indah yang bisa ditawarkan. Karena bisa jadi aku justru akan menjerumuskan keluargaku pada sesuatu yang disebut su’ul adab (tata krama yang tidak baik). Usia 19 tahun dianggap telah cukup matang untuk berumah tangga. Sehingga menjadi hal yang tidak baik menolak sebuah lamaran. Dengan asumsi, ibuku menikah dengan ayah di usia 13 tahun.

 “Nduk...jika memang kamu ingin kuliah setelah menikahpun masih bisa,” sebuah kalimat yang teramat sulit untuk kucerna. Namun pada akhirnya, aku adalah perempuan madura yang terlahir dengan surga karena pengabdiaannya. Aku memilih menjalani pengabdian pertamaku dengan harapan akan ada surga kelak untukku.
*****
 Akupun menjalani peran sebagai calon istri orang. Calon suamiku seorang yang humoris dan pekerja keras. Setidaknya itulah yang kudengar dari keluargaku. Meski dihadapanku, ia tak lebih sebagai sosok yang pendiam dan murung. Huuh..mungkin aku belum mengenalnya? Kucoba menghibur diri sendiri.
 Hingga hari pernikahan kami pun ditentukan. 7 hari setelah hari raya. Suasana sibuk di sana-sini. Di rumahku, dan tentu saja di rumah calon suamiku. Suatu ketika aku diminta untuk bertandang kerumah calon suamiku. Sekadar untuk menjalin keakraban dengan keluarga besarnya. Orang-orang yang kelak juga akan menjadi keluargaku. Aku menjalaninya dengan ritual yang aneh. Aku tak boleh bertatap muka dengan calon suamiku hingga hari pernikahan. Ritual yang kemudian kuketahui disebut ‘pingitan’. Aku menurut saja.
 Di kalangan keluarganya aku terbilang cukup pandai bergaul. Ini terbukti, hampir seluruh keluarganya sangat welcome padaku. Beberapa keponakannya bahkan telah fasih memanggilku dengan sebutan ‘tante’. Mereka anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan. Mereka akan jadi sahabat kecilku. Kupikir.
 Namun Tuhan menyadarkan aku akan sesuatu. Manusia bisa saja berkehendak namun pada akhirnya DIA-lah yng akan menentukan jalan yang terbaik. Aku kembali dihadapkan pada sesuatu yang menguji ketangguhanku. Juga pengabdian yang kujalani. Aku mendapatkan jawaban atas sikap calon suamiku yang terkesan dingin. Dia tak pernah mencintaiku. Dia mungkin juga sama sepertiku, tengah menjalani pengabdian yang terkadang memang sangat menyesakkan.
 “aku menyayangimu, tapi apa gunanya?? Kau sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dia perempuan yang pantas untuk menjadi ibu dari anak-anakmu. Kau pasti bahagia dengannya. Lupakan aku!”. Tanpa sengaja aku mendengar sebuah pembicaraan dari bilik kamar mandi. Dan siapa yang sangka jika itu adalah calon suamiku dan seorang perempuan, yang aku tahu masih sepupu calon suamiku.
Mereka kaget dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Sekaget aku ketika mendengar kalimat yang seolah meruntuhkan bangunan cinta dan pengabdian yang baru saja hendak kubangun. Aku tidak tahu, dengan bahasa apa aku harus mengungkapkan perasaanku kala itu. Satu-satunya yang terlintas di otakku adalah... Aku ingin pulang!. Dan benar, aku pulang tanpa pamit pada siapapun.
 Aku pulang. Tapi aku tak menceritakan apapun pada keluargaku. Aku tak sanggup, meski hanya sekedar membahasakan kegalauan hatiku. Biarlah mereka yang menjelaskan. Malam harinya, sebuah pertemuan keluarga terjadi. Aku sengaja tak keluar kamar andai bukan karena ibu meminta untuk ikut dalam pertemuan itu. Kepalaku pening waktu itu. Dengan kendali diri yang masih tersisa, aku berusaha tampil setegar mungkin. Aku masih sempat menyalami calon mertuaku. Huh... berat sekali sebutan itu!. Sebelum akhirnya memutuskan duduk di samping ibuku. Aku menggenggam tangannya. Ibu... bantu aku! Batinku.
 “Nak, semua keputusan kami serahkan padamu....”. suara itu berasal dari ayah calon suamiku. Aku menarik nafas panjang. Mencoba membuang beban yang menyesakkan dadaku. “Ibu.... ibu tahu aku menjalani semua ini untuk ibu. Jika menurut ibu aku akan bahagia dengan menjalaninya. Aku akan menjalaninya”. Hanya itu, kalimat yang muncul dariku. Lantas aku kembali ke kamarku. Air mataku tak lagi bisa kubendung. Dan aku tak ingin ibu melihatnya. Meski akupun sadar, ibu tahu jika aku menangis.
*****
 Kini, segalanya telah lain. Seperti yang pernah kubilang, ‘Tuhan tahu yang terbaik’. Aku bukan lagi calon istri orang. Bukan lagi perempuan yang karena keluguannya menjadi benalu dalam batin orang lain. Aku bebas. Bebas dari ikatan tanpa cinta.
 Namun, benar kata orang China, dalam kehidupan ini selalu ada unsur yin dan yang (negatif dan positif). Itulah yang membuat kehidupan ini seimbang. Aku memang telah bebas dari ikatan yang mencekik leher, tapi tak berarti aku bebas dari masalah. Kenyataannya, aku dan keluargaku pun tetap berada di pihak yang salah. Karena memutuskan untuk mengakhiri ikatan tersebut. Sebuah keputusan yang mempertaruhkan harga diri dan martabat keluargaku.
 Kuputuskan untuk tidak memikirkannya. Tentu saja bukan tanpa alasan. Tapi lagi-lagi karena ibuku dan untuk ibuku. Aku berjanji menjalani kehidupan dengan sebaik-baik yang bisa aku lakukan. Aku akan terus berusaha tidak akan mengecewakanmu ibu.
 Seketika itu pula seuntai puisi terucap: Teriknya sinar mentari// Menusuk tajam dalam mataku// Membuatku tersilaukan// Rona indah sebuah pengabdian// Langkah lemah bagai duri// Yang menancap.... menghujam jantungku// Dan menghancurkanku// Aku tersenyum menahan luka// Yang hampir berdarah.....dan// Semua untukmu ibu.*** 
Oleh: Fitriana Utami Dewi, alumni S2 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga.




PMTS Gelar Lomba Barongsai


Banyak jalan menuju Roma. Banyak pula cara dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-719 kota Surabaya. Bagi warga Tionghoa Surabaya yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), cara tepat untuk memeriahkannya dengan menggelar perlombaan Barongsai se-Indonesia.
Kepada ChinaTown, Tjai Joe Fon, bendahara panitia acara, mengatakan bahwa maksud dan tujuan digelar acara perlombaan Barongsai merupakan event tahunan untuk menyemarakkan HUT kota Surabaya. “Lomba Barongsai ini sebagai bagian partisipasi warga Tionghoa Surabaya mencintai kota Pahlawan. Lomba ini sudah kami selenggarakan keempat kalinya” ungkapnya.
Tjai Joe Fon menambahkan bahwa selain lomba Barongsai, kami juga menggelar beberapa acara seperti kirab budaya, dan karaoke mandarin untuk meramaikan sekaligus menyambut HUT Kota Surabaya.
Sementara itu, Gundraynie, wakil ketua panitia, menjelaskan bahwa acara lomba Barongsai selalu menarik perhatian publik di negeri ini. “Tahun ini, perlombaan barongsai diikuti 20 tim barongsai se-Indonesia. Diantaranya dari Surabaya, Pamekasan, Malang, Tuban, Kudus, Ujung Padang, Tarakan, Jakarta dan lainnya” jelasnya.
Gundraynie menambahkan bahwa perlombaan barongsai yang digelar mulai 5-6 Mei di Atrium ITC Surabaya tersebut menggunakan standar penilaian internasional. “Kami mengundang beberapa juri tingkat internasional untuk memberikan penilaian dalam perlombaan ini” ungkapnya.
Tjai Joe Fon mengatakan bahwa atraksi yang dimainkan setiap tim barongsai terbilang unik dan menegangkan. Karena mereka memang harus bermain di atas tonggak dengan ketinggian standar international. “Jika mereka terjatuh saat atraksi, maka itu akan mengurangi nilai,”jelasnya.
Menurut Tjai Joe Fon, ada beberapa kriteria penilaian yang diberikan juri. Diantaranya  tingkat kesulitan, keserasian, ketangkasan, kecepatan waktu, keseimbangan hingga kesesuaian atraksi dengan alur cerita.
Gundraynie menjelaskan bahwa setiap pemenang lomba Barongsai ini, biasanya akan dikirim mewakili Indonesia untuk perlombaan tingkat internasional. “Lomba kali ini merupakan tahun ke-4, tiga tahun lalu secara berturut-turut, juara Barongsai dari Tarakan. Sehingga, Tim barongsai Tarakan seringkali mewakili Indonesia untuk tanding ke luar negeri, seperti di Malaysia dan Tiongkok”, paparnya.
Tjai Joe Fon berharap, agar barongsai lebih memasyarakat dan tidak hanya memperebutkan walikota cup, tahun depan perlombaan barongsai bisa menjadi salah satu ikon olah raga nasional. “Kepada pemerintah, kami berharap perhelatan barongsai bisa masuk Pekan Olah Raga Nasional (PON),” tuturnya.
Salah satu penonton lomba barongsai, Pebiniarti mengaku sangat senang dan terhibur. Karena atraksinya menarik sekali. “Baru kali ini saya melihat pertunjukan barongsai dengan atraksi yang dilakukan di atas tonggak setinggi kurang lebih empat meter. Saya tidak menyesal datang dari Malang ke Surabaya untuk menyaksikan festival barongsai ini”katanya.
Moevia, penonton lainnya, mengatakan bahwa perlombaan Barongsai kini menjadi salah satu daya tarik baru bagi masyarakat di Surabaya. “Kami datang sekeluarga mengajak anak-anak ke ITC ini untuk melihat pertunjukan ini. Ternyata, lomba ini menghibur sekali. Kami sekeluarga sangat senang. Ke depan, lomba seperti ini perlu terus dilakukan” harapnya.
Fitriana Utami Dewi.

Perhimpunan INTI Gelar Lomba "Kartini"


Siapa tak kenal Kartini? Jawabnya, tentu, hampir semua rakyat Indonesia mengenal sosok dan kiprahnya. Melalui lirik lagu “Kartini”, sosok Kartini menjadi ikon “Putri sejati, Putri Indonesia, Pendekar bangsa, Pendekar kaumnya Untuk merdeka”.
Oleh karena itu, di setiap 21 April semua elemen masyarakat di negeri ini selalu memperingati Hari Kartini. Warga Tionghoa sebagai bagian rakyat Indonesia, tak mau ketinggalan turut ambil bagian dalam merayakannya. Salah satunya peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Cabang Madiun, belum lama ini.
Ketua Perhimpunan INTI Madiun, Wahju Widajat, mengatakan bahwa pada tahun ini, Perhimpunan INTI Cabang Madiun bekerjasama dengan Sekolah Nasional Tiga Bahasa Mitra Harapan Madiun turut memperingati Hari Kartini dengan tema: "Semangat Kartini Dalam Keanekaragaman Budaya Indonesia".
Kepada China Town, Wahju menjelaskan bahwa maksud dan tujuan digelarnya acara tersebut untuk mengajak generasi muda agar tidak melupakan sejarah perjuangan Kartini. Terutama, perjuangan perempuan untuk kemerdekaan dan pentingnya emansipasi wanita serta memperjuangkan hak-hak perempuan di tengah-tengah keragaman budaya Indonesia.
“Pada tahun ini, acara peringatan Hari Kartini, kami kemas dalam beragam kegiatan dan lomba yang diperuntukan anak sekolah playgroup, TK (Taman Kanak-Kanak) sekolah dasar dan masyarakat umum” ungkapnya.
Harapannya, ungkap Wahju, sejak usia dini, generasi bangsa sudah terbiasa berani tampil, bersemangat untuk maju, berani menunjukkan eksistensi dan bakatnya di berbagai bidang dan selalu mengukir prestasi yang membanggakan.
“Selain itu, juga para generasi muda Indonesia, sudah mengenal, dan bisa menghormati jasa para pahlawan dengan cara meneladani semangat para pahlawan Indonesia. Sehingga, semangat persatuan dan kesatuan bangsa dalam keanekaragaman budaya dapat dimiliki,” imbuhnya.
Sementara itu, Hendro Gunawan, Ketua panitia acara, mengatakan, lomba dihelat mulai 21-22 April, diikuti 618 peserta, dari berbagai daerah, seperti  Yogyakarta, Tangerang, Manado dan Madiun, bertempat di Sekolah Tiga Bahasa Mitra Harapan dan Hall Hotel Merdeka Madiun, dengan berbagai macam kategori lomba, yaitu lomba menyanyi, busana kartini-kartono cilik, telling story dengan menggunkan tiga bahasa, yaitu Indonesia, Inggris dan Mandarin, lomba mewarnai dan foto, untuk anak usia 4-12 tahun. Sedangkan, lomba melukis diikuti oleh anak usia 10-12 tahun.
“Setiap anak yang mengikuti lomba wajib membayar uang pendaftaran mulai 35 ribu sampai 65 ribu bergantung jenis lomba yang diikuti. Untuk pemenang, mendapatkan trophy, piagam dan total uang pembinaan sebesar Rp. 14 juta lebih. Panitia juga menyediakan doorprize, seperti TV, DVD, dan MP3”, katanya.
Kategori juara yang diperebutkan untuk masing-masing kategori lomba, terdiri dari juara 1-3, harapan 1-3, yang dibagi dalam tiga kategori tingkat pendidikan, yaitu tingkat playgroup-Taman Kanak-Kanak, tingkat kelas 1-3 sekolah dasar dan tingkat kelas 4-6 sekolah dasar. Sehingga ada 132 trophy dan piagam yang disediakan panitia. Sedangkan, setiap pemenang rata-rata mendapat uang binaan sebesar Rp. 200-350rb.
Juri lomba terdiri dari para praktisi dan akademisi yang kompeten di bidangnya, salah satunya untuk lomba telling story bahasa mandarin, juri dari dosen Universitas Widya Kartika dari Tiongkok, Badan Koordinasi Bahasa Mandarin Jawa Timur, untuk telling story bahasa Inggris, panitia bekerjasama dengan lembaga bahasa inggris EF, sedangkan lomba menyanyi juri dari group kemuning Surabaya.
Hadir dalam acara perwakilan dari dinas pendidikan, kepemudaan dan olah raga Madiun, pendiri Yayasan Mitra Harapan, ketua Inti Jatim, dan pengurus, ketua Inti Cabang Nganjuk, Jombang dan Surabaya. Fitriana Utami Dewi

Saturday, December 05, 2009

Informasi Kuliah Komunikasi Smtr 3 Fak. Dakwah IAIN Surabaya

Dear all,

hallo teman-teman komunikasi,
karena kita kurang 3 kali pertemuan tatap muka di kelas dan sesuai dengan jadwal perkuliahan kita untuk matakuliah komunikasi organisasi yang jatuh setiap hari jumat. untuk mengingatkan teman-teman bahwa pada tanggal 18 Desember 2009 kita libur 1 muharram dan jumat depannya lagi kita libur perayaan natal tanggal 25 Desember 2009, maka agar perkuliahan kita tetap berjalan lancar, maka untuk tanggal 18 dan 25 Desember yang seharusnya kita kuliah, tetapi libur nasional, kita ganti pada hari Kamis, 10 Desember, Jumat, 11 Desember 2009 jam pertama (pk.07.00-09.00) dan dilanjut jam kedua (09.00-10.15) atau kalau jam kedua, temana-teman tidak bisa, jam kuliah bisa diganti jam ketiga (pk.11.30-12.15).

untuk ruangan mohon konfirmasi teman-teman, saya tunggu selambat-lambatnya Rabu, 9 Desember 2009 atau hubungi 08564-55-33-206.

terimakasih, mohon respon dari teman-teman komunikasi dan beri tahu pada teman-teman lainnya untuk membuka informasi ini.

salam hangat,

Fitriana Utami Dewi
cp: 08564-55-33-206

Friday, February 15, 2008

Mengkaji Ulang Islam Multikultural

Pascatragedi 11 September 2001, diskursus Islam terus menjadi topik aktual dan menarik perhatian banyak kalangan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di tanah air, misalnya, pertarungan wacana dan ideologi Islam kembali mencuat ke permukaan yang diwakili dua kutub yang saling berseberangan: antara kubu fundamental di satu pihak dan kubu liberal di lain pihak. Dalam perdebatan wacana ini, tentu saja beda pendapat dan konflik sosial pun acapkali tidak bisa dihindari. Bahkan, klaim kebenaran (truth claim), tuduh-menuduh, penghakiman dan pengkafiran seolah menjadi santapan sehari-hari dalam kehidupan beragama di negeri ini.

Potret di atas merupakan realitas empirik yang sering dijumpai beberapa tahun lalu, meski akhir-akhir ini wacana tersebut agak redup akibat kalah isu dengan wacana politik, infotainment selebriti dan peristiwa bencana alam di berbagai pelosok tanah air. Namun begitu, bukan berarti perdebatan Islam di nusantara menjadi stagnan, justru dengan ramainya wacana tersebut menjadikan perdebatan agama terus menguat dan kian ramai. Setidaknya hal itu ditandai dengan munculnya banyak kelompok kajian, aliran keagamaan, dan golongan-golongan dalam semua agama, khususnya di Islam.

Islam Multikultural
Dalam konteks tersebut, memperbincangkan diskursus Islam multikultural di Indonesia menemukan momentumnya. Sebab, selama ini Islam secara realitas seringkali ditafsirkan tunggal bukan jamak atau multikultural. Padahal, di Nusantara realitas Islam multikultural sangat kental, baik secara sosio-historis maupun glokal (global-lokal). Secara lokal, misalnya, Islam di nusantara dibagi oleh Clifford Geertz dalam trikotomi: santri, abangan dan priyayi; atau dalam perspektif dikotomi Deliar Noer, yaitu Islam tradisional dan modern; dan masih banyak lagi pandangan lain seperti liberal, fundamental, moderat, radikal dan sebagainya. Secara sosio-historis, hadirnya Islam di Indonesia juga tidak bisa lepas dari konteks multikultural sebagaimana yang bisa dibaca dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh Walisongo.

Kini, realitas multikultural tersebut kadangkala menantang kita untuk bisa bersikap lebih arif dan bijak. Di satu sisi, misalnya, mungkin kita merasa bangga dengan munculnya banyak aliran, kelompok dan golongan dalam Islam, sehingga dengan leluasa bisa memilih dan bergabung dengan aliran yang banyak tersebut. Tetapi, pada sisi lain sebagian kita pasti ada yang bingung dan resah akibat munculnya ragam kelompok dalam Islam di Indonesia belakangan ini, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Yusman Roy, JIL, JIMM, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan sebagainya.

Memang, perbincangan Islam multikultural bukan wacana baru karena sebelumnya sudah banyak pakar Muslim telah melakukan kajian ini. Dalam buku Democratic Pluralism in Islam, misalnya, Abdul Aziz Sachedina pernah merekam dan mengungkap wajah pluralistik Islam baik secara normatif maupun historis. Bagi dia, secara normatif, sumber ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits telah menjelaskan perlunya kenal-mengenal (ta`aruf) antarsuku bangsa dan agama (Q.S. al-Hujurat:13). Bahkan, Hassan Hanafi pernah melontarkan kritik yang dituangkan dalam buku al-Yasar al-Islami (Kiri Islam), tentang perlunya rekonstruksi pemikiran Islam dan pemihakan kaum tertindas akibat perbedaan status, gender dan kultur.

Selanjutnya, menjadikan Islam multikultural sebagai topik atau wacana masih menarik dan perlu disebar-luaskan. Hal ini setidaknya karena tiga alasan. Pertama, situasi dan kondisi konflik. Di tengah-tengah keadaan yang sering konflik, Islam multikultural menghendaki terwujudnya masyarakat Islam yang cinta damai, harmonis dan toleran. Karenanya, cita-cita untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya situasi dan kondisi yang damai, tertib dan harmonis menjadi agenda penting bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Di tanah air, kasus konflik sosial di Poso, Ambon, Papua dan daerah lain merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan bersama.

Kedua, realitas yang bhinneka. Ke-bhinneka-an agama, etnis, suku, dan bahasa menjadi keharusan untuk disikapi oleh semua pihak, terutama umat Islam di Indonesia. Sebab, tanggung jawab sosial bukan hanya ada pada pemerintah tapi juga umat beragama. Dengan lain kata, damai-konfliknya masyarakat juga bergantung pada kontribusi penciptaan suasana damai oleh umat beragama, termasuk kaum Muslimin di negeri ini. Robert N. Bellah, sosiolog agama dari Amerika serikat, mengatakan bahwa melalui Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, Islam telah menjadi peradaban multikultural yang amat besar, dahsyat dan mengagumkan hingga melampaui kebesaran negeri lahirnya Islam sendiri, yaitu Jazirah Arab. Pada konteks ini, toleransi dan sikap saling menghargai karena perbedaan agama, sebagaimana diungkap Wilfred Cantwell Smith, perlu terus dijaga dan dibudayakan.

Ketiga, norma agama. Sebagai sebuah ajaran luhur tentu agama menjadi dasar yang kuat bagi kaum agamawan pada umumnya untuk membuat kondisi agar tidak carut-marut. Dalam hal ini, tafsir agama diharapkan bukan semata-mata mendasarkan pada teks, tetapi juga konteks agar maksud teks bisa ditangkap sesuai makna zaman. Perdebatan antara aliran ta`aqqully yang mendasarkan pada kekuatan rasio/akal dan aliran ta`abbudy yang menyandarkan pada aspek teks telah diwakili oleh dua aliran besar, yaitu Mu`tazilah dan Asy`ariyah, bisa menjadi pelajaran masa lalu yang amat menarik.

Prospek ke Depan
Di tengah situasi konflik akhir-akhir ini, masa depan Islam multikultural tampaknya bisa menjadi wacana alternatif atas problematika Islam kontemporer. Lebih-lebih di Indonesia yang masyarakatnya majemuk, plural dan beragam dalam berbagai hal, wacana Islam multikultural bisa dikatakan strategis untuk ditawarkan.

Keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, NU dan organisasi keagamaan lainnya di era multikultural seperti saat ini sudah seharusnya memposisikan diri sebagai koordinator bukan instruktur. Fungsi koordinatif ketimbang instruktif bagi lembaga keagamaan di negeri ini menjadi penting karena dominasi salah satu pihak atas organisasi keagamaan akan menimbulkan konflik dan awal munculnya diskriminasi social, dan secara langsung atau tidak langsung telah menghilangkan eksistensi salah satu pihak.

Penghargaan atas pihak lain dengan jalan membuka dialog bersama guna membuat dan memutuskan kebijakan (decision making) menjadi penting. Tentu saja hal itu dilakukan dalam persoalan-persoalan yang relevan dan berkaitan erat dengan masalah dan kepentingan hidup bersama.

Selain itu, pihak negara sudah seharusnya tidak banyak ikut terlibat dalam urusan-urusan agama dan keluarga hingga yang sangat pribadi, seperti soal poligami. Isu poligami yang ramai kembali akibat berita A’a Gym menikah dengan Teh Rini membuat negara ikut-ikutan campur tangan. Menurut hemat penulis, biarlah persoalan agama lebih banyak diserahkan kepada kaum agamawan, sedangkan pemerintah sebaiknya hanya memberi pelayanan sebaik-baiknya dalam urusan-urusan publik, bukan malah ikut campur tangan dalam masalah agama hingga persoalan kecil.

Negara dan agama sudah seharusnya tetap menjalin komunikasi dan sinergi dalam mengelola realitas multikultural di negeri ini. Komunikasi merupakan jalan dialog sebagai upaya saling mengenal dan memahami maksud-tujuan eksistensi dan relasi agama-negara. Hal itu juga merupakan sinergi sebagai gerakan bersama dalam mewujudkan cita-cita masyarakat berkeadilan dan berkesetaraan, sesuai visi UUD 1945 dan Pancasila.

Akhirnya, gagasan Islam multikultural menghendaki kesediaan menerima perbedaan lain (others), baik perbedaan kelompok, aliran, etnis, suku, budaya dan agama. Lebih dari sekadar merayakan perbedaan (more than celebrate multiculturalism), Islam multikultural juga mendorong sinergi untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, damai, toleran, harmonis dan sejahtera. Pertanyaan akhir sebagai penutup tulisan ini adalah, beranikah kita ber-Islam secara multikultural?[]

*Penulis adalah Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya; yang telah menulis buku Pendidikan Multikultural (2006).
Suara Muhammadiyah edisi 1-15 Maret 2007.